|

Kita baru aja ngerayain Hari jadi ke-64 kemerdekaan Republik Indonesia (RI), Senin, 17 Agustus 2009. Seperti biasa, upacara bendera digelar di seluruh Tanah Air, mulai dari Istana Negara, Jakarta, dengan inspektur upacara Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, sampai ke daerah-daerah tingkat satu, dua, dan seterusnya.
Begitupun di berbagai instansi pemerintahan, di berbagai sekolah, dari tingkat bawah, sampai atas. Semua merayakan hari penting, dan bersejarah, yang menandai bebasnya kita dari belenggu penjajahan.
Tapi, kalo mau jujur, semuanya hanya seperti seremoni, kecuali mungkin yang berlangsung di Istana, yang dihadiri langsung Presiden, Wakil Presiden, para menteri, dan petinggi negara, pimpinan lembaga tinggi negara. Para pegawai negeri, anak-anak sekolah, kaum muda, yang mengikuti upacara itu di lingkungan masing-masing, seperti terpaksa.
Apalagi karena hari itu bertepatan dengan hari libur resmi. Kalo aja nggak ada sanksi bagi yang nggak ikut upacara, bisa dipastikan lapangan upacara akan kosong melompong. Para peserta upacara, termasuk PNS pasti lebih memilih berlibur, atau tetap di rumah masing-masing dari pada ikut upacara.
Sikap seperti itu, jelas menggambarkan bagaimana rendahnya apresiasi kita terhadap Hari Kemerdekaan kita. Dalam tingkat yang lebih tinggi, boleh jadi semangat nasionalisme anak-anak bangsa ini sudah luntur. Itu artinya, kita tak lagi menghargai jasa para pahlawan, yang berhasil memerdekakan negara, dan bangsa ini dari penjajahan.
Rasanya perlu terapi, atau terobosan untuk menumbuhkan terus semangat nasionalisme. Semangat cinta Tanah Air harus terus didengungkan. Seperti apa caranya, pasti para petinggi Republik ini punya kiat-kiatnya. Setelah itu, kita berharap segera diimplementasikan di lapangan. Jangan tunggu semangat dan cinta terhadap bangsa, dan negara ini benar-benar pupus. (Yayat Hidayatullah, Depok).
 |